Perkembangan wine – atau biasa disebut dengan istilah ‘anggur’ di Indonesia – berawal dengan ditemukan minuman beralkohol yang didapat dari hasil fermentasi buah-buahan dan padi-padian. Hasil fermentasi ini mempunyai rasa yang enak, sehingga bisa membuat orang memiliki perasaan nikmat dan senang. Pada Abad ke-18, minuman ini pada mulanya banyak dijual oleh masyarakat Eropa di tavern-tavern.
Wine kemudian makin sering diperkenalkan, seiring dengan ditemukannya tanaman anggur yang dapat dipelihara sehingga tumbuh subur dan buahnya bisa difermentasi agar menghasilkan rasa yang lebih baik. Wine biasanya diproduksi oleh negara-negara yang memiliki empat musim.
Seperti yang kita ketahui, di hampir semua benua terdapat negara-negara yang memiliki empat musim, dan banyak di antara mereka yang
memproduksi wine. Pembuatan wine harus melalui rentetan proses yang panjang, dari mulai penanaman tanaman anggur, peragian, pembuatan, penyimpanan (pengumuran), serta pencampurannya.
Beberapa tahun kemudian, terjadi migrasi orang-orang Eropa ke benua Amerika secara besar-besaran. Mereka membawa keahlian membuat minuman beralkohol dan mendirikan tavern di sana. Pertumbuhan tavern kemudian berkembang menjadi inn dan selanjutnya menjadi hotel. Pada hotel-hotel ini, biasanya terdapat sebuah ruangan yang disebut bar room, yaitu tempat dilakukannya penjualan minuman beralkohol tersebut. Para tamu yang datang ke hotel dapat mampir ke bar hotel untuk melepaskan penat atau bersantai sambil minum wine atau minuman beralkohol lainnya. Akhirnya, wine dan bar pun menjadi dua bagian yang tak terpisahkan.
Disarikan dari Pengetahuan Minuman dan Bartending (ESENSI: 2009).
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: ads[at]esensi.co.id