Ide
Tidak ada hambatan yang berarti ketika niat itu tercetus di benaknya: memilih kuliah film. Sebuah keluarga yang demokratis, terbuka, ditambah Ayah dan Ibu yang bekerja sebagai seniman, menjadi modal berharga bagi Mira Lesmana untuk terjun ke dunia yang masa depannya berisiko tersebut. Beruntung, perempuan kelahiran 8 Agustus 1964 ini memiliki ayah seorang seniman besar, Jack Lesmana, dan ibu yang juga seorang seniman, Nien. “Pilihan bagus tapi harus sungguh-sungguh!” begitu pesan sang ayah, Jack, kepada putrinya ketika itu.
Menapaki awal karier di dunia i lm tidaklah mudah bagi seorang perempuan. Mira masih ingat, hanya tujuh orang perempuan di antara total 70 orang mahasiswa satu angkatan ketika memasuki Institut Kesenian Jakarta (IKJ) pada tahun 1985. “Yang tersisa di tahun terakhir hanya 20 orang, Yang tujuh perempuan bertahan walaupun yang terjun ke dunia i lm tidak semuanya,” kenang Mira. Di antara ketujuh perempuan tersebut, hanya Mira dan dua orang teman seangkatannya yang memilih terjun ke dunia film. Ia mengambil spesialisasi penyutradaraan. Sempat singgah berkarier di dunia periklanan pada salah satu agensi besar tak serta merta membuatnya lupa untuk mengejar mimpinya di dunia film.
Mimpi
Bumi Manusia akhirnya kembali kepada kami,” ujar kakak kandung musisi Indra Lesmana tersebut dengan perasaan bungah. Bumi Manusia yang dimaksud oleh sineas perempuan tersebut taklain adalah roman monumental yang ditulis oleh mendiang sastrawan Pramoedya Ananta Toer. Akhir perjalanan panjang hak pembuatan film itulah yang membuat Mira lega. Sempat akan digarap oleh sutradara lain, roman yang menggunakan latar waktu Surabaya akhir abad-19 tersebut itu pun, kembali ke pangkuan Mira yang memang mengidolakan karya Pramoedya itu sejak lama.
Karya tersebut ditulis oleh Pramoedya saat menjalani hukuman di Pulau Buru sebagai tahanan politik antara Agustus 1969 hingga 12 November 1979 di Pulau Buru. Bumi Manusia adalah bagian pertama dari tetralogi Pulau Buru yang rencananya akan dii lmkan. Bumi Manusia memang legendaris, bahkan beberapa fragmen dalam ceritanya telah dipentaskan dalam pertunjukan teater.
Sama halnya ketika Mira menggarap film Gie pada tahun 2005, sebuah film yang menceritakan sepak terjang aktivis mahasiswa tahun 1966 bernama Soe Hok Gie. Memi lmkan Soe Hok Gie memang cita-cita Mira sejak lama. Mira mengaku telah mengenal sosok Gie melalui bukunya Catatan Seorang Demonstran sejak masih tinggal di Australia. Buku terbitan LP3ES pada tahun 1983 ini memuat catatan-catatan harian penting aktivis Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Universitas Indonesia tersebut. Film ini pun meraih sukses setelah meraih sederet penghargaan dalam festival i lm internasional seperti Film Terbaik di ajang Festival Film Indonesia 2005 dan penghargaan Special Jury Prize di The Singapore Film Festival 2006.
Bagi Mira, membuat film bukanlah perkara gampang. Membuat film macam Gie, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan mungkin juga Bumi Manusia nanti ibarat perkataan budayawan Goenawan Mohammad; tak cuma menafsirkan kenyataan, tetapi juga mengubahnya. Istri dari aktor watak Mathias Muchus ini dikenal tak main-main dalam melakukan riset sebelum menggarap sebuah f i lm. Bumi Manusia membutuhkan penelusuran yang tidak main-main. Merekonstruksi kota Surabaya akhir abad ke-19 sebagai latar tempat Bumi Manusia bukanlah perkara mudah.
Ia berburu dokumentasi hingga negeri Belanda yang terkenal rapi menyimpan koleksi foto-foto kuno Indonesia masa lalu. Sama halnya ketika Mira bersama Riri membangun Jakarta tahun 1966 dengan menyulap kota tua Semarang untuk film Gie.
Keseriusannya itu membuat Mira Lesmana terbukti mampu menelurkan karya-karya hebat. Pada tahun 2000 Mira Lesmana memproduksi film feature pertama Riri Riza bertema anak-anak berjudul Petualangan Sherina. Di tahun 2002, ia memproduksi i lm feature perdana Rudi Soedjarwo yang berjudul Ada Apa dengan Cinta? Riri Riza bertindak sebagai co-producer-nya. Tercatat juga kolaborasi Mira dengan sutradara muda, Agung Sentausa, dalam memproduksi film Garasi yang bercerita tentang perjalanan sebuah grup band.
Mira Lesmana dan Riri Riza menjadi partner dan menjalankan MILES Films Production. Mira pun memproduksi tiga lagi film Riri Riza, yaitu Eliana, Eliana (2002) yang menuai banyak respons dari para kritikus film, Gie (2005) yang menuai kontroversi politik, dan tidak lama setelah itu, sebuah proyek i lm feature anak-anak bertajuk Untuk Rena (2005), 3 Hari untuk Selamanya (2007) yang menggugah, hingga Laskar Pelangi (2008) yang diangkat dari novel bestseller karya Andrea Hirata dan memecahkan rekor film Indonesia dengan jumlah penonton bioskop terbanyak, yaitu 4,6 juta penonton, serta sekuelnya, Sang Pemimpi pada akhir 2009.
Tak sedikit orang yang mengagumi Mira sebagai sosok penting dalam peri lman nasional termasuk mahasiswa-mahasiswanya di IKJ. “Antara bangga dan grogi juga mendengarnya. Jika spirit-nya memberi insiprasi, saya senang,” respons Mira terhadap kekaguman sejumlah mahasiswanya. “Saya selalu bilang jangan melihat orang dari hasilnya tapi perjalanannya juga.” Mira telah menempuh sebuah perjalanan panjang, mengutip kata-kata Pramoedya Ananta Toer, jalan setapak walau bukan pematokan, dalam dunia peri lman Indonesia, sambil menyimpan cita-citanya membuat i lm silat. (Sumber:wawancara/YE)
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: ads[at]esensi.co.id