Share

Ide

Tidak  ada  hambatan  yang  berarti  ketika niat  itu  tercetus  di  benaknya:  memilih  kuliah film.  Sebuah  keluarga  yang  demokratis,  terbuka, ditambah  Ayah  dan  Ibu  yang  bekerja  sebagai seniman,  menjadi  modal  berharga  bagi  Mira Lesmana  untuk  terjun  ke  dunia  yang  masa depannya berisiko tersebut. Beruntung, perempuan kelahiran 8 Agustus 1964 ini memiliki ayah seorang seniman besar, Jack Lesmana, dan ibu yang juga seorang seniman, Nien. “Pilihan bagus  tapi harus sungguh-sungguh!” begitu pesan sang ayah, Jack, kepada  putrinya  ketika  itu.

Menapaki  awal  karier  di  dunia  i lm  tidaklah mudah bagi seorang perempuan. Mira masih ingat, hanya  tujuh  orang  perempuan  di  antara  total  70 orang mahasiswa satu angkatan ketika memasuki Institut Kesenian  Jakarta  (IKJ)  pada  tahun  1985. “Yang  tersisa  di  tahun  terakhir  hanya  20  orang, Yang  tujuh  perempuan  bertahan  walaupun  yang terjun ke dunia i lm tidak semuanya,” kenang Mira. Di antara ketujuh perempuan tersebut, hanya Mira dan dua orang teman seangkatannya yang memilih terjun  ke  dunia  film.  Ia  mengambil  spesialisasi penyutradaraan.  Sempat  singgah  berkarier  di dunia  periklanan  pada  salah  satu  agensi  besar tak serta merta membuatnya lupa untuk mengejar mimpinya  di  dunia  film.

Nama  Mira  Lesmana  melambung  setelah ia  memproduseri  i lm  serial  dokumenter  Anak Seribu  Pulau  yang  sukses  pada  tahun  1996. Namanya baru diakui sebagai pembuat i lm setelah berkolaborasi dengan Riri Riza, Nan T. Achnas, dan Rizal Mantovani  dalam  pembuatan  film  Kuldesak pada  tahun  1998.

Mimpi

Bumi Manusia akhirnya kembali kepada kami,” ujar kakak kandung musisi Indra Lesmana tersebut dengan  perasaan  bungah.  Bumi  Manusia  yang dimaksud  oleh  sineas  perempuan  tersebut  taklain  adalah  roman monumental  yang  ditulis  oleh mendiang  sastrawan  Pramoedya  Ananta  Toer. Akhir perjalanan panjang hak pembuatan film itulah yang membuat Mira  lega.  Sempat  akan  digarap oleh  sutradara  lain,  roman  yang  menggunakan latar waktu  Surabaya  akhir  abad-19  tersebut  itu pun,  kembali  ke  pangkuan  Mira  yang  memang mengidolakan  karya Pramoedya  itu  sejak  lama.

Karya  tersebut  ditulis  oleh  Pramoedya  saat menjalani hukuman di Pulau Buru sebagai tahanan politik antara Agustus 1969 hingga 12 November 1979 di Pulau Buru. Bumi Manusia adalah bagian pertama dari tetralogi Pulau Buru yang rencananya akan dii lmkan. Bumi Manusia memang legendaris, bahkan  beberapa  fragmen  dalam  ceritanya  telah dipentaskan  dalam  pertunjukan  teater.

Sama halnya ketika Mira menggarap  film Gie pada tahun 2005, sebuah film yang menceritakan sepak  terjang  aktivis  mahasiswa  tahun  1966 bernama Soe Hok Gie. Memi lmkan Soe Hok Gie memang cita-cita Mira sejak  lama. Mira mengaku telah mengenal sosok Gie melalui bukunya Catatan Seorang  Demonstran  sejak  masih  tinggal  di Australia. Buku  terbitan LP3ES pada  tahun 1983 ini memuat catatan-catatan harian penting aktivis Mahasiswa  Pencinta  Alam  (Mapala)  Universitas Indonesia  tersebut.  Film  ini  pun  meraih  sukses setelah meraih sederet penghargaan dalam festival i lm  internasional  seperti  Film  Terbaik  di  ajang Festival  Film  Indonesia  2005  dan  penghargaan Special Jury Prize di The Singapore Film Festival 2006.

Bagi  Mira,  membuat  film  bukanlah  perkara gampang.  Membuat  film  macam  Gie,  Laskar Pelangi, Sang Pemimpi,  dan mungkin  juga Bumi Manusia  nanti  ibarat  perkataan  budayawan Goenawan  Mohammad;  tak  cuma  menafsirkan kenyataan,  tetapi  juga  mengubahnya.  Istri  dari aktor watak Mathias Muchus ini dikenal tak main-main dalam melakukan  riset sebelum menggarap sebuah  f i lm.   Bumi   Manusia  membutuhkan penelusuran yang tidak main-main. Merekonstruksi kota  Surabaya  akhir  abad  ke-19  sebagai  latar tempat  Bumi Manusia  bukanlah  perkara mudah.

Ia  berburu  dokumentasi  hingga  negeri  Belanda yang  terkenal  rapi  menyimpan  koleksi  foto-foto kuno  Indonesia  masa  lalu.  Sama  halnya  ketika Mira  bersama  Riri  membangun  Jakarta  tahun 1966 dengan menyulap kota tua Semarang untuk film Gie.

Keseriusannya  itu  membuat  Mira  Lesmana terbukti mampu  menelurkan  karya-karya  hebat. Pada  tahun  2000  Mira  Lesmana  memproduksi film  feature pertama Riri Riza bertema anak-anak berjudul  Petualangan  Sherina.  Di  tahun  2002,  ia memproduksi i lm feature perdana Rudi Soedjarwo yang  berjudul  Ada  Apa  dengan  Cinta?  Riri  Riza bertindak sebagai co-producer-nya. Tercatat  juga kolaborasi  Mira  dengan  sutradara  muda,  Agung Sentausa,  dalam  memproduksi  film  Garasi  yang bercerita  tentang  perjalanan  sebuah  grup  band.

Mira  Lesmana  dan  Riri  Riza menjadi  partner dan  menjalankan  MILES  Films  Production.  Mira pun  memproduksi  tiga  lagi  film  Riri  Riza,  yaitu Eliana, Eliana (2002) yang menuai banyak respons dari  para  kritikus   film,  Gie  (2005)  yang menuai kontroversi  politik,  dan  tidak  lama  setelah  itu, sebuah  proyek  i lm  feature  anak-anak  bertajuk Untuk Rena (2005), 3 Hari untuk Selamanya (2007) yang  menggugah,  hingga  Laskar  Pelangi  (2008) yang diangkat dari novel bestseller  karya Andrea Hirata  dan  memecahkan  rekor  film  Indonesia dengan jumlah penonton bioskop terbanyak, yaitu 4,6 juta penonton, serta sekuelnya, Sang Pemimpi pada  akhir  2009.

Tak  sedikit  orang  yang  mengagumi  Mira sebagai  sosok  penting  dalam  peri lman  nasional termasuk  mahasiswa-mahasiswanya  di  IKJ. “Antara  bangga  dan  grogi  juga  mendengarnya. Jika  spirit-nya  memberi  insiprasi,  saya  senang,” respons  Mira  terhadap  kekaguman  sejumlah mahasiswanya. “Saya selalu bilang jangan melihat orang dari hasilnya  tapi perjalanannya  juga.” Mira telah  menempuh  sebuah  perjalanan  panjang, mengutip  kata-kata  Pramoedya  Ananta  Toer, jalan  setapak  walau  bukan  pematokan,  dalam dunia  peri lman  Indonesia,  sambil  menyimpan cita-citanya membuat i lm silat. (Sumber:wawancara/YE)

 

 

Add comment



Redaksi: redaksi[at]esensi.co.id
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: ads[at]esensi.co.id