Butet Kartaredjasa, putra kelima dari tujuh bersaudara pasangan almarhum seniman Bagong Kussudiardja dan almarhumah Soetiana, memang sosok yang unik. Semasa Orde Baru, Butet dan Teater Gandrik bertahun-tahun dicekal karena kritikan pedasnya pada penguasa saat itu. Namun lelaki kelahiran Yogyakarta, 21 November 1961 ini malah memilih “spesialisasi” menirukan suara Presiden Soeharto –sesuatu yang sangat berbahaya pada saat itu.
Keberaniannya membuat Butet semakin populer. Begitu Orde Baru tumbang pada 1998, Butet tampil di mana-mana dan dengan bebas mengekspresikan kegiatan seninya. Butet pun tampil di berbagai panggung teater hingga televisi dan bermain di film-film layar lebar. Terakhir, ayah tiga orang anak ini, ditunjuk sebagai “presiden” di “Republik Mimpi”.
Baru saja Butet dan Teater Gandrik-nya mementaskan “Keluarga Tot” di Graha Bakti Budaya TIM (17-20 April) dan di Concert Hall Taman Budaya Yogya (29-30 April). Adaptasi cerita dari Hongaria ini dikemas apik dengan menyelipkan sentilan untuk para caleg dan partai politik di negara kita yang baru saja selesai mengelar pemilu legislatif. Tagline-nya menarik: ketika masyarakat dipaksa menerima ‘kebenaran’, meski tak menyukainya. Cerita aslinya berjudul Tóték, oleh penulis terkenal István Örkény (1912-1979).
Anda dan adik Anda, Djaduk Ferianto, memilih berkarya di bidang seni. Apakah ini pengaruh ayah Anda?![]()
Ya, tentu saja. Soalnya pengin jadi pemborong jalan tol, ternyata nggak berbakat. He he he.
Bagaimana Anda memandang sosok seorang Bagong Kussudiardja?
Dia seorang pendidik yang baik, seniman yang disiplin dan bertanggung jawab secara penuh terhadap profesinya. Sekaligus dia juga seorang yang punya nyali besar untuk menggoyang setiap kemapanan. Ada jiwa pemberontakan di dalam dirinya.
Apakah hubungan Anda dengan putra-putri Anda sekarang seperti hubungan Anda dengan ayah Anda dulu?
Ada yang sama, ada yang beda. Yang sama, kami sama-sama menganut prinsip “tut wuri handayani”. Memberikan kebebasan sambil mengawasi dari belakang, menjaga supaya anak-anak tidak tersesat dan salah langkah. Yang beda, saya memberikan ruang toleransi yang lebih luas dan mencoba bersikap adil kepada mereka.
Apa yang paling berkesan selama Anda menggeluti dunia seni peran?
Saya berkesempatan mempelajari aneka watak manusia, meliarkan imajinasi, dan belajar berorganisasi dengan cermat. Dalam seni peran kita terpaksa mengenali detail dari sebuah tindakan manusia: kenapa sebuah tindakan harus terjadi, gaya tindakannya, ekspresi mimiknya, gesture-nya, pilihan seleranya, dan lain-lain. Semua ini membutuhkan kecermatan dalam pengamatan. Harus teliti. Karena tuntutan ini, akhirnya setiap akan mengambil keputusan, saya terbiasa berpikir cermat, teliti, dan memaksimalkan imajinasi.
Apa makna ulang tahun bagi Anda dan bagaimana Anda merayakan ulang tahun selama ini?
Ulang tahun adalah kesadaran akan berkurangnya jatah hidup. Kalau pas teringat sedang ulang tahun, paling banter cuma makan bareng anak-anak di tempat yang rada istimewa. Dan berdoa, menyatakan syukur, berterima kasih sama Tuhan karena Dia udah ngasih kesempatan hidup dan mewarnai kehidupan.
Bagaimana Anda memaknai pertambahan usia?
Saya selalu mematok bahwa saya akan mati muda.
Dengan begitu saya jadi punya dorongan untuk memaksimal “sisa” waktu dengan bekerja lebih keras dan serius, seakan-akan berpacu dengan datangnya kematian. Jika misalnya hari ini saya menduga umur saya tak akan lebih 50 tahun, itu berarti tinggal dua tahun saja. Saya harus mengerjakan banyak hal: berkarya dan memberikan bakti kepada kemanusiaan.
Setelah berkarya di bidang seni selama puluhan tahun, adakah yang berubah dalam diri Anda?
Ya jelas. Saya semakin meyakini bahwa manusia hidup itu tujuannya bukan semata-mata mempertahankan sebuah kehidupan, bukan untuk berlomba menjadi kaya-raya. Hidup itu dimaksudkan untuk memuliakan alam dan kehidupan melalui talenta yang melekat di dalam diri kita.
Apa rencana Anda beberapa tahun ke depan?
Jika saya berhasil berusia di atas 55 tahun, saya akan mengabdikan sisa hidup saya di dunia pendidikan, terutama mengaplikasikan seni peran sebagai pelengkap profesi apa pun. Seni peran yang bukan semata-mata untuk kebutuhan seni. Sebab, saya percaya dan meyakini, di sektor profesi apa pun, sesungguhnya orang membutuhkan teknik acting tak ubahnya seorang aktor.
(Sigit Widodo, Foto: Koleksi pribadi Butet Kartaredjasa)
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: ads[at]esensi.co.id