1. Pak Pere adalah penulis novel The Last Barongsay yang diterbitkan oleh Esensi. Bisakah bapak menceritakan bagaimana awal penyusunan novel ini?
Awalnya, sekitar November 2009, Rano Karno memberikan ide mengenai tema masalah budaya akulturasi di Tangerang. Berawal dari pengamatan Rano Karno sebagai pejabat pemerintah daerah yang mengamati perkembangan berbagai aspek kemasyarakatan di tanah Tangerang. Dia menemukan sebuah akar budaya masyarakat yang terancam bakal tercabut dari bumi yang telah ratusan tahun berpijak. Di antaranya kesenian barongsay dan cokek. Mata hatinya sebagai seniman atau budayawan pun bergerak mengikuti logika berpikir yang muncul di sekitarnya. Bila tidak ada yang mengangkat permasalahan ini ke permukaan, tentunya masyarakat luas tidak akan menyadari itu, apalagi peduli.
Di akhir tahun 2009 itu sebetulnya Rano Karno dengan Karnos Film ingin mewujudkan gagasannya itu dalam bentuk tayangan layar lebar dengan judul The Last Barongsay. Dan saya langsung menuliskannya dalam bentuk skenario. Saat itu belum terpikirkan akan membuat tulisan dalam bentuk novel. Namun, pada Februari 2010 Karnos Film memutuskan untuk membuat tayangan layar lebar Satu Jam Saja dan The Last Barongsay dijadwalkan setelah itu. Maka, saya mengusulkan untuk membuat tulisan itu dalam bentuk novel dahulu.
2. Bagaimana peran Rano Karno sebagai penggagas ide cerita? ![]()
Selain menggagas persoalan budaya yang ada, beliau pun memberikan ide mengenai karakter utama, profil, dan konflik awal di sekitarnya. Saya menambahkan beberapa karakter utama, titik balik, konflik utama, dan tentunya plot cerita keseluruhan. Ringkasnya, Rano Karno membuat peta butanya dan saya mengembangkan dan memperjelasnya dengan segala macam atribut yang dibutuhkan.
3. Bisa diceritakan apakah ada kendala dalam penyusunan novel ini?
Masalahnya lebih pada penetapan tujuan dari tema cerita. Saya pribadi lebih cenderung untuk mengusung peranan semangat mengejar impian dapat melepaskan seseorang dari belenggu keterpurukan, bukannya persoalan etnis atau ras. Eksplorasi data dan informasi pada awal penulisan skenario tadinya diarahkan untuk mendapatkan gambaran faktual mengenai budaya China. Namun, saya pertimbangkan kok malah mengkaburkan tujuan mengangkat persoalan utama, yaitu persoalan budaya akulturasi yang terkesampingkan dari agenda pemerintah dan kepedulian masyarakat luas. Rano Karno pun setuju dengan tujuan dari tema cerita itu.
4. Mengapa mengangkat budaya Tionghoa atau China Benteng, bukannya Betawi saja?
Perlu diluruskan, sebetulnya tidak ada istilah budaya Tionghoa atau China Benteng, yang ada adalah budaya akulturasi. Perpaduan antara budaya luar dengan budaya setempat. Nah, kesenian barongsay dan cokek di Tangerang pun merupakan proses akulturasi dengan kesenian Betawi. Jadi, dengan mengangkat cerita berlatar belakang kedua jenis kesenian itu tentunya juga akan menyentuh budaya Betawi secara keseluruhan. Oleh karena itu dalam novel The Last Barongsay juga termuat sisi kebhinekaan. Para praktisi kedua jenis kesenian itu bukan hanya mereka yang berasal dari etnis tertentu saja.
5. Bagaimana menurut Pak Pere tentang kebudayaan Tionghoa di Indonesia, khususnya Jakarta?
Sebenarnya tidak cocok menggunakan terminologi budaya Tionghoa, etnis Tionghoa, atau orang Tionghoa. Ketika dilakukan eksplorasi data dan informasi, banyak pula di antara mereka yang kurang setuju dengan pemberian label demikian. Mereka lebih nyaman disebut orang Tangerang, orang Cikarang, orang Karawang, dan lain-lain.
Mungkin ini disebabkan akulturasi yang akar budayanya berasal dari China. Kalau menilik berbagai kejadian lampau, tentunya saat ini kondisinya sangat kondusif sekali. Banyak kesempatan untuk mengangkat aspek kebudayaan tersebut agar lebih terbentuk berbagai peluang bagi kehidupan yang lebih baik. Apalagi pemerintah China pun sangat antusias mencanangkan program kerjanya untuk membuka kerja sama di bidang apa pun dengan pemerintah dan masyarakat Indonesia.
6. Apa harapan Pak Pere mengenai novel ini?
Saya berharap tujuan dari tema cerita bisa diterima oleh masyarakat luas, yaitu pentingnya memunculkan semangat mengejar impian atau cita-cita meski dibelenggu keterpurukan dan tidak pernah berhenti berjuang untuk mengubah nasib menjadi lebih baik. Selain itu, latar belakang cerita mengenai kesenian barongsay dan cokek dapat meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa keberadaan kedua jenis kesenian itu dan mungkin juga beragam kesenian lain yang memiliki nasib serupa tidak boleh dikesampingkan, apalagi sampai punah.
Semoga, novel The Last Barongsay bisa mengangkat mereka yang bergelut di dunia kesenian barongsay dan cokek di tanah Tangerang. Dan diharapkan bisa menularkan semangat yang tergambarkan dan memberikan ruang perenungan, bahwa tidak pernah ada yang salah dengan kesenian ataupun kebudayaan apa pun. Meskipun napas tersengal dalam situasi sekarat, mereka akan tetap bertahan hidup, bila saja semangat mengejar impian mulai muncul di urat nadi walau pada serabut yang terhalus. Apalagi siapa pun berhak bermimpi dan berhak mengejar impiannya.
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: ads[at]esensi.co.id
Comments
:-) ..." meski dibelenggu keterpurukan dan tidak pernah berhenti berjuang untuk mengubah nasib menjadi lebih baik......."
-1 Like This — Kakang Patih Basugit 2012-07-16 08:49 #
RSS